Maiyah sebagai Kata Kerja FAHMI AGUSTIAN • 26 Apr 2016 • Dibaca normal 5 menit Esai , Mènèk Blimbing Ribuan orang berduyun-duyun datang ke sebuah acara Maiyahan di sebuah tempat yang jauh dari pusat keramaian kota. Laki-laki, perempuan, tua, muda, tidak memandang profesi, agama, suku dan ras, semua berkumpul dalam satu wadah bernama Maiyah untuk belajar bersama, berusaha untuk menemukan kembali kesejatian manusia. Maiyah, sebuah forum diskusi yang sangat sederhana, semua ilmu dielaborasi bersama, tidak ada jarak yang begitu jauh antara audiens dengan narasumber, bahkan seringkali podium atau panggung hanya berjarak beberapa centimeter saja dari jamaah. Jamaah duduk lesehan, duduk menekun berjam-jam, sesekali menikmati kopi atau teh untuk mengambil jeda, menikmati sajian musik Gamelan KiaiKanjeng atau penampilan dari seniman yang hadir. Tidak sedikit bahkan yang rela berdiri lebih dari 3 jam agar tetap menikmati kekhusyukan ...